PT Kereta Api (persero) belum optimal memanfaatkan aset lahan dan properti yang dikelolanya. Jika dikelola dengan baik, pendapatan dari aset-aset itu dapat menutup kerugian persero yang pada 2007 sekitar Rp 40,5 miliar (setelah pajak). Padahal, rencana kerja anggaran memprediksi laba Rp 15 miliar.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Railway Watch Taufik Hidayat, di industri perkeretaapian, biaya operasional biasanya ditutup dari pendapatan bisnis non-inti. Ini, misalnya, terjadi pada perusahaan Japan Railway Central yang memiliki 38 anak perusahaan, 12 di antaranya adalah perusahaan real estat.

Taufik mengingatkan, harus ada pemisahan yang tegas dari regulator terkait prasarana yang dapat dikerjasamakan PT KA dengan pihak lain.

”Area mana di stasiun yang boleh dibangun menjadi kawasan komersial sehingga investor swasta tertarik. Direksi PT KA harus kreatif mengembangkan bisnis,” ujar Taufik, Minggu (26/10) di Bandung.

Menurut Direktur Pengembangan Usaha PT KA Julison Arifin, dalam lima tahun ke depan, porsi pendapatan PT KA dari dari bisnis non-inti akan mencapai 25-30 persen. ”Saat ini, porsi pendapatan dari bisnis non-inti masih 6-8,5 persen, tetapi segera meningkat,” ujar Julison.

Wakil Presiden Jusuf Kalla telah mengarahkan pembentukan anak perusahaan itu sejak 3 November 2006. Surat Direksi PT KA untuk pengelolaan aset properti pun telah terbit 13 Desember 2006.

Sekitar 1.000 hektar

Di Jawa dan Sumatera, PT KA mempunyai lahan dan aset properti sekitar 1.000 hektar, terbagi di 140 lokasi. Lahan PT KA di Jakarta 80 hektar, yaitu di Manggarai dan Bukit Duri, dengan sertifikat hak pakai.

Pada sembilan daerah operasi dan tiga divisi regional, PT KA mempunyai 571 stasiun, 33 stasiun di antaranya stasiun besar yang layak ditawarkan dalam bentuk kerja sama operasi (KSO) ke swasta. Di emplasemen stasiun Semut Kota (Surabaya), misalnya, dari hasil KSO tahun 2007 diperoleh Rp 4,24 miliar.

Pada 2007, PT KA telah menjalankan 26 KSO, yaitu tahap perjanjian kerja sama 13 KSO, tahap penandatangan nota kesepahaman 5 KSO, dan studi kelayakan 8 KSO. Namun, pencapaian pendapatan KSO hanya 77 persen dari target Rp 92 miliar.

Bentuk KSO PT KA, antara lain, adalah pembangunan superblok di emplasemen Stasiun Bandunggudang (13,5 hektar), pembangunan superblok di Stasiun Bandung (6,5 hektar), mal di Stasiun Jakarta Kota (1,75 hektar), dan kompleks gudang di Tanah Abang, Jakarta (3 hektar).

Proyek properti yang sedang dikaji adalah pembangunan terminal peti kemas di Stasiun Lemah Abang, Bekasi, pembangunan pertokoan di Jalan Jati, Medan, dan pusat perdagangan di Jalan Wahidin, Medan. (RYO).

sumber : kompas.com