Sistem transportasi berbasis rel kini makin dilirik. Kereta api atau kereta rel listrik dinilai merupakan alat transportasi massal yang lebih efisien, hemat, dan bebas polusi udara. PT Kereta Api mencanangkan revitalisasi kereta api untuk memaksimalkan KA sebagai alat transportasi massal di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Usaha revitalisasi perkeretaapian di Jabodetabek memang menjadi salah satu agenda Departemen Perhubungan dan bagian dari rencana revitalisasi perkeretaapian nasional..

Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Wendy Aritenang dalam sebuah seminar di Jakarta mengatakan, rencana ini sudah dimulai dengan membentuk perusahaan baru PT KA Jabotabek (spin-off) pada Agustus 2008. Dalam waktu satu tahun sesudahnya, perusahaan baru ini akan mulai beroperasi.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bambang Susantono mengatakan, kota-kota besar di dunia yang berpenduduk lebih dari lima juta orang sudah sepantasnya memanfaatkan KA sebagai angkutan transportasi massal yang bebas macet. Sistem perkeretaapian nasional bisa dijadikan tulang punggung sistem transportasi intermoda yang terintegrasi.

Namun, persoalannya, Jakarta seluas 650 kilometer persegi, yang kini dihuni lebih dari 10 juta orang, hingga kini belum memiliki angkutan transportasi massal berbasis rel yang memadai, seperti halnya di kota-kota besar di dunia. Jakarta terlambat memanfaatkan transportasi berbasis rel.

Kemacetan di Ibu Kota semakin parah. Dari 5,7 juta kendaraan bermotor yang berseliweran di Jakarta, 98 persen merupakan kendaraan pribadi. Jumlah kendaraan bermotor bertambah 9 persen setiap tahun, sedangkan pertambahan jalan kurang dari 1 persen. Lalu lintas di Jakarta dikhawatirkan bakal stagnan dalam waktu dua-tiga tahun ke depan jika tak ada solusi yang signifikan.

Namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Wacana mass rapid transit (MRT) yang dibahas sejak 15 tahun silam mulai dibicarakan serius. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo kabarnya akan membangun MRT jurusan Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,7 km pada 2009. Proyek itu akan didanai melalui pinjaman lunak Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Selain MRT juga dibutuhkan langkah strategis lain mengatasi kemacetan lalu lintas, yakni memaksimalkan jalur rel KA di seputar Jabodetabek. Melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 27, PT KA membuka peluang kepada swasta bekerja sama merenovasi stasiun dan menyediakan gerbong baru.

Salah satu yang memanfaatkan tawaran itu adalah PT Pembangunan Jaya. Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini rencananya akan menggarap jalur KA Jakarta-Serpong, dengan menyediakan gerbong KA kelas eksekutif dan membangun stasiun baru di kawasan Jurangmangu.

Saat ini lebih dari 600.000 kendaraan bermotor dari Bodetabek masuk Jakarta setiap hari. Salah satu cara agar lalu lintas Jakarta tidak makin padat adalah menyediakan sarana transportasi nyaman dan aman bagi warga Bodetabek.

Pakar program revitalisasi KA, Farid Harianto, menjelaskan, PT KA selama ini belum maksimal menggarap penumpang di Jabodetabek. Dengan dibentuknya PT KA Jabotabek belum lama ini, PT KA menargetkan jumlah penumpang KA di Jabodetabek dari 400.000 orang per hari pada 2007 menjadi 2,1 juta penumpang per hari pada tahun 2011.

Dukungan pemerintah pusat untuk program revitalisasi KA di Jabodetabek sangat kuat. Hal itu terlihat dari alokasi anggaran selama tahun 2008-2010 yang mencapai Rp 5,8 triliun. Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan lebih mudah bekerja sama dengan PT KA Jabodetabek, setidaknya untuk mengintegrasikan tiket-tiket moda transportasi seperti Bus Rapid Transit (BRT), MRT, monorel dengan KRL Jabodetabek, termasuk KA Bandara.

Kampus pionir

Langkah nyata mengurangi kepadatan lalu lintas juga dilakukan oleh lembaga pendidikan. Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri pekan lalu menyatakan, UI akan mengembangkan trem sebagai sarana transportasi di kawasan kampus seluas lebih dari 312 hektar di Depok, Jawa Barat, sebagai langkah mewujudkan green campus atau kampus hijau.

Semua kendaraan bermotor yang masuk kampus diwajibkan parkir di lahan khusus. ”Ada tiga lokasi parkir yang disiapkan. Dari lokasi itu, semua orang, mahasiswa, dosen, karyawan, dan pimpinan UI wajib naik trem. Kami akan menjadi kampus pionir di Indonesia yang mengembangkan trem,” ujar Gumilar.

UI saat ini memiliki 40.000 mahasiswa dan pengajar. Gumilar menambahkan, trem itu akan efektif jika terintegrasi dengan sistem transportasi umum di Kota Depok. ”UI akan mengajak Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il mengembangkan trem di Depok. Kalau ini sukses, dapat dikembangkan di Jakarta dan kota-kota penyangga lainnya sebagai alternatif sarana transportasi massal,” ujar Gumilar.

Pakar transportasi dari UI, Suyono Dikun, menjelaskan, trem digunakan pada akhir abad ke-19 di Eropa. Sampai saat ini masih tetap dikembangkan di banyak negara di dunia, seperti Belanda, Perancis, Jerman, sampai Australia. Jakarta sebetulnya pernah memanfaatkan trem pada zaman penjajahan Belanda sejak tahun 1920. Namun, moda transportasi itu hilang.

Padahal, trem dinilai ramah lingkungan. Selain itu, kapasitas angkutnya juga banyak. Sekali jalan trem membawa tiga gerbong, masing-masing berkapasitas 80 penumpang yang terdiri atas 60 penumpang duduk dan 20 penumpang berdiri. Trem yang berkecepatan rata-rata 15-40 km per jam sekali jalan mengangkut 240 penumpang.

Pakar transportasi, Francis Kuhn, mengungkapkan, Perancis melakukan revitalisasi sistem transportasi publik dalam tahun 1970-2008 dengan mengembangkan jalur trem di berbagai kota di negeri itu..

Pada tahun 1970 hanya tiga kota yang mengembangkan trem dan tahun 2008 sudah 19 kota. Perancis merupakan salah satu negara yang sukses membangun sistem transportasi massal yang nyaman. Bagaimana dengan revitalisasi KA di Indonesia, khususnya Jakarta dan Bodetabek?

sumber : kompas.com